Imajinasi pas masih SMA kelas 1, saat pelajaran Kimia.
Tongkat Sihir
19 April 2012
“ Agus mahendra putra, Tari yulia, Indah
santika, Sherly anjani. Sherly anjani?”
berulang kali bu yani memanggil namaku.
“bolos kali buk..!” kata seorang murid cowok yang
paling sok cool di kelas.
Aku telah mengambil langkah seribu untuk pergi dari
sekolah itu. Apalagi hari ini adalah harinya ibu eva untuk mengajar. Si guru
killer yang ga segan-segan ngehukum
muridnya yang ga bisa jawab pertanyaan kimia. Hufh, aku sudah langganan berdiri
di depan kelas (kayaknya tuh guru dendam sama gue), jadi kupikir-pikir lebih
baik bolos saja daripada harus berdiri
di depan kelas untuk kesekian kalinya.. haha
Langkah seribuku berhenti ketika kulihat seorang
bapak-bapak yang sedang menyiram kebun belakang sekolah.
“aduh, mampus gue! Ada pak bun lagi! Bisa-bisa nanti
gue diaduin ke BK sama tuh mulut ember!”
Rencana membolosku belum berjalan lancar. Tapi
tiba-tiba aku mendapat ide cemerlang.
“aha!” teriakku girang
“ permisi pak”
“ya, ada apa ya?” sahut pak bun
“aduh bapak gimana sih? Sampah di parkiran masih
berserakan, bapak malah nyiram kebun. Saya disuruh manggil bapak buat bersihin
parkiran. Pak Budi yang nyuruh.”
‘ah masak sih? Kamu kan sekarang jam pelajaran.
Kenapa bisa diluar kelas?”
Aduh, pak bun banyak bacot lagi! (kataku dalam hati)
“i..iya pak, tadi saya habis dari toilet, pas mau ke
kelas, eh pak Budi nyuruh saya nyariin bapak”
(hahaha.. alasan yang agak aneh)
“oh, baiklah, saya ke parkiran sekarang. Cepat kamu
ke kelas”
“i..iya pak”
Pak kebun akhirnya beranjak ke parkiran tanpa curiga
padaku.
Horeee… berhasil juga nipu tuh tukang kebun! Kataku
dalam hati.
Saat pak bun hilang dari pandangan, aku mulai
memanjat pagar besi yang tidak terlalu
tinggi itu.
“kruekk”
Waduh! Rokku robek saat memanjat pagar. Ah, peduli
amat. Yang penting aku bisa keluar dari penjara ini. Pikirku
Akhirnya perjuanganku tidak sia-sia. Aku berhasil
membolos! Hahaha
“hufh, akhirnya keluar juga gue dari penjara Azkaban
ini”
Aku melihat ke arah jam tangan yang kukenakan.
Ternyata baru menunjukan pukul 5 sore. Aku berpikir sejenak akan pergi kemana.
“uang jajan tinggal lima ribu. Aduuh, kemana ya?”
Sambil berjalan aku masih berpikir mau pergi kemana. Tiba-tiba sebuah benda yang mirip ranting
pohon dan berwarna coklat tua yang tergeletak di rerumputan membesarkan pupil
mataku.
“apaan tuh?”
Kulihat ke kanan dan ke kiri jalanan begitu sepi.
Akupun mengambil ranting itu.
Ternyata ranting itu memiliki ukuran yang lebih
besar. Bahkan sulit untuk dipatahkan. Dan saat ku cermati, terdapat sebuah
tulisan “ERENGGUS”
Apa ini? Pikirku.
Aku pergi ke sebuah taman kota dan duduk di sebuah
ayunan tua. Ku tatap ranting pohon itu. Mungkin lebih enak disebut tongkat.
“ Erenggus. Erenggus.Erenggus. apaan sih ni
tongkat.! Ga berguna banget”
Kataku kesal. Tapi rasa penasaran mengalahkan rasa
kesal ku.
“wah, mungkin aja ini tongkatnya harry potter jatuh
ke bumi. Hahaha”
Aku mencoba memutar-mutar tongkat itu layaknya harry potter memutar
tongkat sihirnya. Sambil mengucapakn ERENGGUS, ERENGGUS,ERENGGUS, aku terus
memutar tongkat itu.
Dan pada akhirnya…
Tiba-tiba aku merasa seperti ada sebuah angin
putting beliung menerjangku. Rasanya begitu memusingkan dan hampir membuatku
pingsan, aku takut anemiaku kambuh, hanya itu yang ada dipikiranku saat ini.
Dan pada akhirnya tubuhku lemas tidak berdaya, entah apa yang terjadi.
Hingga aku
tersadar…
Aku tertidur
di lantai dingin pada sebuah lorong kastil yang sangat kuno. Begirtu mirip
dengan kastil-kastil kerajaan jaman dahulu kala.
Masih memegangi tongkat itu, aku berjalan bangun
dengan susah payah karena kepalaku masih terasa pusing.
“dimana ini?” aku bergumam kecil kebingungan dengan
apa yang sebenarnya terjadi.
Kuputuskan untuk menyusuri lorong kastil nan indah
ini dan seketika langkah kakiku terhenti ketika seseorang menepuk bahuku dari
belakang.
Perlahan aku menghadap ke belakang dengan perasaan
takut dan deg-degan.
Seseorang dengan tubuh besar memelototiku.
Rasa takutku pun bertambah drastis.
“ siapa kau?” kata orang berbadan besar itu
“aku tersesat, aku minta maaf karena telah memasuki
kastilmu tanpa izin” pintaku sambil menunduk takut.
“kau perlu di sidang. Sini ikuti saya” katanya
dengan nada tegas
Aku mengikutinya sambil memperhatikan desain kastil
yang begitu tua dan klasik.
Langkahnya terhenti di sebuah ruangan besar. Seperti
aula.
Disana terdapat banyak orang-orang yang sedang
berbincang-bincang sehingga terdengar begitu ribut.
“ PERHATIAN” teriak orang yang berbadan besar tersebut. Teriakkanya
bagaikan gemuruh petir yang begitu kencang sehingga membuatku kaget.
“ Lihatlah orang yang kubawa ini. Dia telah
mengambil salah satu tongkat sihir kastil kita. Siapa pemilik tongkat ini?”
katanya sedikit membentak.
Idiih,, udah gede, suara kenceng pula! Kayak gajah
aja! Ocehku dalam hati.
Tiba-tiba seorang cowok berjalan menghampiri kami.
Ia terlihat menunduk dan ada raut penyesalan di wajahnya.
Siapa dia? Waahh ganteng bangeett. Pikirku
“ maafkan saya tuan Dobley, saya …”
Tiba-tiba si manusia besar yang ternyata namanya
adalah Doley memotong pembicaraan si ganteng.
“saya tahu persis apa yang kau lakukan. kau ingin
kabur dari kastil ini kan? Dan saat kau ingin pergi, secara tidak sengaja kau
jatuhkan tongkat sihirmu. Apa kau telah bosan berada disini. Di kerajaan
ERENGGUS ini?”
“tidak tuan, saya hanya ingin tahu bagaimana rasanya
tinggal di bumi. Sebentar saja. Tetapi karena tongkat saya jatuh, saya tidak
berani mengambilnya tanpa kekuatan apapun. Saya mohon ampun tuan”
Waduh? Jadi ini dimana? Di planet mars? Atau mungkin
Pluto? Aku menebak tidak karuan. Masih tidak mengerti semua ini. Sambil ku
tampar-tampar pipiku, tetapi aku tidak bermimpi. aku masih berada di sekeliling
orang-orang aneh ini. Dan sekali lagi mereka menyebut kata-kata SIHIR! Aku
mulai dapat menyimpulkan bahwa aku terjebak di dunia lain, aku berada
disekeliling penyihir! Ini aneh tapi aku tidak dapat memungkiri bahwa ini
adalah nyata. Kataku dalam hati.
“ Orang inilah yang menemukan tongkatmu dan
menyebutkan mantra ERENGGUS. Dia makhluk bumi” Dobley melanjutkan
pembicarannya.
Semua orang di aula itu terkejut, menatapku aneh dan
beberapa berbisik bisik dengan
teman-temannya. Entah apa yang ada di benak mereka.
Apakah aku berbahaya bagi orang-orang ini?
Entahlah….
Entah apa yang mereka bicarakan.
“ aku minta maaf. Aku hanya tidak sengaja menemukan
tongkat ini .”(sambil memberikan tongkat itu ke si ganteng)
Tapi si gendut Dobley malah merebutnya dan berkata,
“ kau sepatutnya dihukum Kevin. Kau
tidak dapat menggunakan sihir selama 40 hari.”
Waduh?! 40 hari? Loe pikir 40 hari bangkitnya pocong?!
Huh dasar genduut! Kasihan Kevin .
“Dan kau!” sambil menunjukku
“karena telah menemukan tongkat sihir milik muridku,
kau akan kuberi ampun. Tetapi karena kau juga kabur dari sekolahmu, aku akan
menghukummu selama sehari untuk belajar kedisiplinan di kerajaan Erenggus ini.
Mengerti!”
Ih, tau dari mana dia kalau gue lagi ngebolos? Wih,
sakti juga si gendut ini. Haha kataku dalam hati.
“tapi bagaimana dengan keluargaku di rumah?”
“ini adalah hukuman! Kau tidak dapat menolaknya! Dan
kau tidak dapat kabur. Karena ini adalah kerajaan Erenggus. Mengerti?”
Mau Erenggas kek, mau Erenggus kek, ga peduli deh
gue. Tapi bener juga sih, gue pasti ga bisa kabur. Si Kevin aja ga bisa, gimana
gue? Ga tau jalan. Hufh.. pikirku.
Ya sudah, gue pasrah aja. Lagian gimana sih rasanya
hidup di dunia sihir? Barangkali gue bisa naik sapu terbang nantinya. Hahaha
(sambil senyam senyum menghayal)
“siapa namamu pembolos?” Tanya Dobley
“sa..saya sherly om. Eh, maksud saya tuan Dobley”
Kevin terlihat tertawa kecil mendengar ucapanku.
“Mulai hari ini
kau akan ku ajari kedisiplinan. Mengerti?”
“mengerti tuan” kataku sambil menunduk
Akhirnya aku, Kevin dan tuan Dobley pergi keluar
dari aula tersebut. Dan keramaian suara orang-orang yang berada di aula kembali
terdengar.
Tuan Dobley mengajariku banyak hal. Sebenarnya
dengan hal-hal yang sangat simple. Seperti, menyapu aula dengan serius. apalagi
menyapu bersama Kevin. Kami banyak berbincang-bincang mengenai tempat tinggal
masing-masing. Dan tiba-tiba Dobley mengganggu suasana dengan menyihir aula
menjadi kembali kotor. Akupun berhenti ngobrol dengan Kevin. Dan kembali serius
menyapu.
Kemudian Dobley memberi kami waktu istirahat 5
menit, tidak boleh lebih. Jika lebih, kami akan dihukum lagi. Begitu banyak
peraturan di kastil ini. Tetapi selama beberapa jam saja, aku jadi terbiasa
hidup dengan aturan dan hukuman.
Rasanya seperti disihir menjadi disiplin. Tapi,
bermanfaat juga sih.. pikirku lagi.
Ketika malam tiba.. aku duduk di pinggiran jendela
menikmati pemandangan bintang yang sangat banyak dan terang. Sambil merenung
memikirkan keluarga,sekolah, dan teman-temanku.
Tiba-tiba
Kevin menghampiriku dan duduk bersamaku. ia berkata, “senang dapat mengenal
makhluk bumi sepertimu. Lain kali, jangan bolos lagi ya? Siapa tahu kehidupan di bumi bisa berubah
setentram Erenggus. Mulailah dari disiplin sherly”
seseorang menepuk pundakku dari belakang.
“kuncinya adalah disiplin makhluk bumi. Besok pagi,
berkumpullah di aula” kata Dobley yang ternyata telah berada di belakangku.
“aku berterimakasih kepada kalian semua. Terutama
tuan Dobley. Senang dapat mengenalmu dan menjadikanku lebih taat” kataku sambil
tersenyum.
Kamipun melewati malam itu dengan penuh canda dan
tawa. Kami ngobrol hingga larut malam. Kemudian setelah mataku sudah sangat
berat, aku memutuskan untuk tidur. tuan
Dobley mengantarku ke sebuah kamar.
“terimakasih Dobley, selamat malam”
Keesokan harinya..
Pagi itu adalah pagi yang sangat dingin. Hingga
udara nya terasa menusuk kulit tipisku.
Aku meniup telapak tanganku dan menggosoknya. Rasa
dingin pun terasa sedikit berkurang.
“Sherly!”
Aku menoleh ke belakang
“Kevin? Ada apa?”
“pagi yang cerah. Ayo ikut denganku”
Kevin menarik tanganku dan mengajakku ke suatu
tempat. Dan ternyata, kami sampai di sebuah taman yang sangat luas dan indah. Terlihat
banyak ibu-ibu yang sedang memetik buah-buahan dan anak-anak kecil yang sedang
belajar menggunakan tongkat sihir (wow! Amazing)
“waah… keren banget vin”
“kami selalu menjaga alam ini. Jadi, alam pun
memberi kenyamanan kepada kami”
“memang di bumi gimana?”
“jauh.. jauh banget dari kesan seindah ini.. aku
tinggal di kota yang penuh polusi, macet, bahkan tindak criminal udah semakin
meningkat. Beda sama kehidupan di Erenggus ini”
“makanya, jaga alam kita mulai sekarang juga karena
alamlah yang membuat kita hidup. Alam yang menyediakan segalanya!” katanya sambil megelus kepalaku
“hhaha, iya pak..” ngomong ngomong aku jadi ingat
dengan tukang kebun sekolah yang selalu memarahi murid-murid yang membuang
sampah sembarangan. Haha
“ok, sudah cukup melihat pemandangan. Sekarang kita
harus menuju ke aula. Kamu pasti sudah
ditunggu”
Kami pun berjalan menuju aula. Dan semua orang telah
menunggu kami. Terlihat Dobley menunggu sambil tersenyum menatapku.
“kemari nak” kata dobley sambil melambaikan
tangannya
Aku menghampiri Dobley . semua mata tertuju padaku.
Sebenarnya aku malu karena belum mandi dan hanya menggunakan baju sekolah yang
sudah kotor.
“kau bau sekali”
kata Dobley bercanda
“iya, aku kan belum mandi Tuan”
Semua orang tertawa kecil. Malah aku juga ikut
tertawa bersama mereka.
Dobley menepuk pundakku dan berkata, “sebenarnya kau
anak yang baik. Coba kau ubah sifatmu yang dulu. Aku yakin akan banyak pengaruh
positif yang datang”
“iya tuan Dobley. Aku sangat berterimakasih atas
semua yang telah kau ajarkan kepadaku” mataku mulai berkaca-kaca ingin menangis
rasanya jika berpisah
“pagi yang cerah ini kita harus berpisah sherly. Aku
sangat senang bertemu denganmu”
“aku juga tuan. Walaupun hanya sebentar, aku sudah
merasa kau dan yang lainnya bagaikan keluargaku sendiri” aku mulai menangis
“sebelum pergi, aku ingin memberikan sesuatu
untukmu”
Kemudian Dobley mengeluarkan sebuah cermin antik
dari kantongnya. Sebuah cermin yang sangat klasik dan cantik
“ambilah” kata dobley
“dengan cermin itu, setiap malam kau bisa berkomunikasi
denganku, ataupun rakyat Erenggus. Tapi ingat satu hal. Kau tidak boleh memberi
tahu kepada siapapun tentang Erenggus. Jika iya, kau bisa kehilangan kekuatan
cermin itu sherly”
“aku berjanji akan menjaga cermin dan rahasia ini
tuanku . aku berjanji”
“baiklah. Sekarang saatnya kita berpisah. Ada yang
ingin kau sampaikan sebelumnya sherly?”
“aku berterimakasih kepada kalian semua rakyat
erenggus yang sejahtera. Aku sangat senang bertemu kalian. Dan untuk Kevin,
ingat jangan kabur ke bumi. Bumi tidak seindah erenggus lho..”
Semua orang tertawa mendengarku.”
Akhirnya momen perpisahan pun tiba. Dobley
mengajakku ke suatu tempat dimana aku pertama kali menginjakkan kakiku di
erenggus. Ya, di lantai koridor
Iya menyuruhku berbaring dan memegang tongkat
Erenggus milik Kevin. Dia menyuruhku memikirkan tempat yang ingin ku tuju dan berkata, “BUMI, BUMI, BUMI”
dan tiba-tiba sebuah perasaan yang sama ketika
pertama kali aku mengucap mantra Erenggus datang lagi. Perasaan dimana tubuh
kita seolah-olah di datangi angin puting beliung yang begitu cepat. Aku merasa
memasuki sebuah dimensi lain. Rasanya begitu mual dan memusingkan. Hingga akhirnya
aku tersadar telah berbaring di atas tempat tidurku sambil memeluk cermin yang
diberikan oleh tuan Dobley. Aku berada di kamarku. Kamar tersayang. Saat
kulihat jam di dinding yang menunjukan jam 7 malam, aku berlari ke arah
kalender yang tertempel di dinding dan kulihat tanggal berapakah hari ini? Aku
kaget ketika mengetahui bahwa hari ini masih tanggal 19 April. Bagaimana semua ini bisa terjadi? Pikirku
dalam hati.
Tiba-tiba seseorang memanggilku.. ternyata ibu
“Sherly.. ibu pulang”
Aku berlari menghampiri ibu dan memeluknya.
“aku sayang ibu” kataku sambil menangis. Maklum, aku
merasa sangat merindukannya.
“ibu juga sayang kamu. Tapi kok tumben kamu gini ?”
kata ibu sambil tertawa
Hufh, ternyata di Erenggus waktu berlalu sangat
cepat. Ibu saja baru pulang kerja. Tapi selama aku di Erenggus, waktu sangat
cepat berputar. Pikirku.
“ya sudah, sekarang kamu mandi. Pasti kamu ketiduran
datang dari sekolah. Tuh bajunya bau banget” kata ibu
“iya bu..”
“kamu pasti lapar? Ibu akan memasak ayam rica-rica
kesukaan kamu deh. Udah sana mandi dulu”
Malam itu begitu indah.. makan malam bersama ibu,
ngobrol dan bercanda semalaman begitu menyenangkan.
Ngantuk mulai menyerang, kamipun pergi ke kamar
masing-masing. Di kamar, aku mengambil cermin itu dan kutatap dalam-dalam. Aku
tidak tahu bagaimana cara kerja cermin ini. Aku tetap memandang wajahku di
cermin klasik yang kupegang dengan erat sambil memikirkan Erenggus.
Kemudian aku mulai menyadari dengan perlahan cermin
yang memaantulkan wajahku itu berekasi, wajahku terhapus dari cermin! Seketika terlihatlah
kastil Erenggus tepat di dalam kaca . itu seolah-olah tanganku bisa masuk
kedalamnya, tapi tidak.
Aku hanya tersenyum dan berharap suatu saat dapat
pergi ke Erenggus lagi..

Comments
Post a Comment