Akankah ia kalah menghadapi dirinya sendiri?
....
Entah sejak kapan ia merasa
begitu hampa…seakan dunianya kosong, seakan tidak ada yang bisa dirasakan.
Seakan ia sudah muak dengan semua
yang ia hadapi.. tapi disisi lain, ia memiliki hasrat untuk menemukan sesuatu
yang dapat membangkitkan perasaannya, entah itu amarah, sedih, maupun cemburu,
karena selama ini ia sudah terbiasa untuk menaklukan ketiga perasaan itu.
Ketika amarah datang, ia akan
cepat digantikan oleh senang.
Ketika sedih datang, ia akan
cepat digantikan oleh senang.
Ketika cemburu datang, ia akan
cepat digantikan oleh senang.
Lalu apa yang terjadi? Ia berakhir
tanpa mengetahui amarah, sedih, dan cemburu yang sebenarnya. Karena itu ia
merasa begitu hampa karena tidak ada api yang membara di dirinya.
Namun ketika ia mencoba
menghidupkan api tersebut, ia mungkin akan membakar seluruh pikirannya tanpa
menyisakan senang. Seakan ketiga perasaan itu menang, mengalahkan si penakluk “senang”.
Mungkin itu yang membuat ia
merasa hampa, karena ia takut menghadapi perasaannya sendiri.
Comments
Post a Comment